Mengapa Wanita dengan PCOS Cenderung Merasa “Mager” dalam Berolahraga dan Bagaimana Mengatasinya?

Ilustrasi: Arsip Neina Qonita Istiqomah.

Bagikan:

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau Sindrom Ovarium Polikistik adalah kelainan hormonal, endokrin dan metabolisme pada wanita usia reproduksi yang ditandai dengan gejala seperti hirsutism atau kelebihan pertumbuhan rambut di tubuh dan/atau area wajah, gangguan menstruasi dan infertilitas.

PCOS memengaruhi hampir 20% wanita usia reproduktif secara global. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab PCOS. Namun, studi yang dilakukan Joham dkk. (2022) menyebutkan bahwa penyebab PCOS begitu kompleks, termasuk kerentanan genetik dan epigenetik, disfungsi hipotalamus dan ovarium, paparan androgen berlebih, resistensi insulin, dan mekanisme yang berkaitan dengan kelebihan timbunan lemak dalam tubuh.

Mengatur pola hidup yang sehat menjadi salah satu anjuran awal yang diberikan oleh dokter bagi pasien PCOS. Meskipun relatif mudah, menjaga pola hidup yang sehat tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Kondisi mager atau malas gerak selalu saja dialami oleh mereka yang memiliki PCOS.

Dalam ilmu Psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan Sedentary Behavior. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan gaya hidup yang melibatkan aktivitas fisik yang sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Perilaku ini mencakup berbagai aktivitas yang melibatkan duduk atau berbaring dalam posisi yang tidak menghabiskan banyak energi. Menurut Tay dkk (2020) kondisi kurang bergerak atau sedentary behavior sangat lazim di kalangan wanita dengan PCOS.

Menurut penelitiannya, kondisi wanita dengan PCOS cenderung dapat memengaruhi tingkat aktivitas fisik mereka. Khususnya bagi wanita dengan PCOS yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas sangat dimungkinkan untuk memiliki perilaku sedentari, seperti duduk lama, kurangnya aktivitas fisik, dan kurangnya olahraga.

Beberapa alasan mengapa wanita dengan PCOS cenderung berperilaku sedentari, diantaranya:

  • Kecemasan, kelelahan bahkan depresi dapat membuat mereka kurang termotivasi untuk berolahraga atau beraktivitas fisik.
  • Kenaikan berat badan berlebih atau obesitas cenderung merasa sulit untuk melakukan aktivitas fisik karena beban tambahan pada tubuh mereka.
  • Nyeri atau ketidaknyamanan pada panggul misalnya sehingga tidak nyaman saat berolahraga.
  • Gangguan menstruasi seperti siklus menstruasi yang tidak teratur dapat membuat beberapa wanita merasa tidak nyaman untuk berolahraga.
  • Pola tidur yang tidak teratur pada wanita dengan PCOS dapat mengurangi energi dan motivasi untuk berolahraga.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Yogyakarta menemukan bahwa gaya hidup kurang gerak merupakan salah satu faktor risiko PCOS pada wanita (Kurniawati dkk., 2023). Perilaku ini dapat memperburuk gejala PCOS dan meningkatkan risiko penyakit terkait seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung dan gangguan metabolisme. Aktivitas fisik yang cukup dan mengurangi perilaku sedentari dapat membantu mengelola berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, dan mengurangi risiko komplikasi yang terkait dengan PCOS.

Penting bagi wanita dengan PCOS untuk memperhatikan pola aktivitas fisik mereka dan berusaha untuk meningkatkan tingkat aktivitas fisik sehari-hari. Aktivitas fisik yang teratur, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang, dapat membantu mengelola berat badan, meningkatkan kesehatan jantung dan mengelola gejala PCOS.

Salah satu strategi untuk menghilangkan perilaku sedentari ini dapat dilakukan dengan aplikasi Classical dan Operant Conditioning. Dalam Ilmu Psikologi, classical conditioning atau dikenal dengan pembelajaran stimulus-respon yang pertama kali dipelajari oleh Ivan Pavlov adalah proses pembelajaran yang melibatkan asosiasi antara stimulus netral dengan stimulus yang memiliki respon tertentu.

Melalui eksperimennya dengan anjing, Pavlov menyimpulkan bahwa individu dapat belajar untuk mengasosiasikan stimulus netral seperti bunyi lonceng dengan stimulus makanan, sehingga mereka mulai mengeluarkan respon seperti mengeluarkan air liur ketika mendengar bunyi lonceng. Sementara operant conditioning atau merupakan metode yang diperkenalkan pertama kali oleh B.F. Skinner mengenai metode pembelajaran yang menggunakan penguatan hadiah dan hukuman sebagai konsekuensi dari sebuah perilaku.

Membentuk Kebiasaan yang Lebih Sehat dan Produktif

Classical dan Operant conditioning dapat diterapkan dalam manajemen lifestyles bagi wanita PCOS untuk membentuk kebiasaan yang lebih sehat dan produktif. Salah satu bentuk stimulus netral yang dapat digunakan untuk menghilangkan sedentary behavior dan membentuk kebiasaan yang lebih sehat adalah dengan adanya social support dan fungsi reward. Bagaimanakah cara kerjanya? Berikut penjelasan berdasarkan studi yang dilakukan Brennan dkk (2017) yang dapat dilakukan:

  1. Kontrol terhadap Stimulus

Hal pertama yang dapat dilakukan adalah mengkondisikan lingkungan yang sebelumnya tidak sehat menjadi lingkungan yang memberikan isyarat tingkah laku sehat lebih banyak daripada tingkah laku yang tidak sehat.

Lingkungan yang sehat sebagai stimulus netral akan mengontrol pengambilan keputusan untuk tetap mengontrol kebiasaan yang lebih sehat seperti banyaknya aktivitas fisik yang dilakukan hingga dapat memengaruhi preferensi makanan dan keputusan diet.

Ketika seseorang yang telah membuat keputusan untuk mengurangi konsumsi makanan cepat saji (pengambilan keputusan) menghadapi stimulus eksternal, seperti iklan makanan cepat saji, mereka mungkin merasakan dorongan untuk membeli makanan tersebut karena stimulus itu memicu respons yang telah terkondisi (stimulus control).

Kontrol diri diperlukan untuk menghadapi godaan dan memutuskan untuk tetap pada keputusan mereka untuk melakukan aktivitas fisik dan tidak mengonsumsi makanan cepat saji. Melalui latihan dan pengalaman, seseorang dapat memperkuat kontrol diri mereka dan menjadi lebih baik dalam menghadapi stimulus eksternal yang memicu keinginan yang bertentangan dengan keputusan mereka.

Dalam contoh ini, interaksi antara stimulus control seperti tidak tersedianya makanan cepat saji, misalnya, pengambilan keputusan untuk menjaga kesehatan dan kontrol diri untuk menahan diri dari godaan dapat menciptakan dinamika yang memengaruhi perilaku seseorang terkait dengan konsumsi makanan yang lebih sehat.

  1. Ketersediaan Dukungan Sosial
Ilustrasi: Pixabay.

Ketersediaan dukungan sosial menjadi salah satu aspek penting dalam manajemen lifestyles bagi wanita yang mengalami PCOS. Brennan dkk (2017) menyebutkan bahwa dalam proses treatment untuk gejala PCOS harus melibatkan orang yang signifikan bagi wanita yang mengalaminya.

Orang lain yang signifikan bisa berasal dari keluarga seperti suami, anak dan orang tua, bisa teman ataupun komunitas atau significant others selain keluarga dan teman. Tujuannya adalah memfasilitasi dukungan berkelanjutan untuk perubahan perilaku sehat di luar sesi pengobatan dan setelah pengobatan selesai. Aspek ini dapat diaplikasikan pada kegiatan olahraga dengan teman atau pasangan.

Mencoba berolahraga dengan orang-orang yang tersayang dapat menimbulkan perasaan senang. Harapannya, ketika sudah mulai terlibat dalam kegiatan tersebut, berolahraga sendirian maupun dengan orang yang tersayang dapat tetap memunculkan perasaan yang positif.

  1. Pemberian Penguatan

Jika sudah berhasil melakukan apa yang sudah ditargetkan, berikan penghargaan untuk menguatkan perilaku. Self-reward ini dapat memotivasi Anda untuk tetap konsisten atau bahkan meningkatkan aktivitas yang lebih produktif.

Reward ini juga dapat diberikan oleh orang lain, seperti pasangan atau teman tersayang. Pemberian hadiah bagi pasangan dapat membantu meningkatkan motivasi untuk manajemen lifestyle dan meningkatkan keyakinan pada kemampuannya untuk berhasil mengontrol gejala PCOS.

  1. Konsultasi dengan Ahli.

Seseorang bisa cocok dengan olahraga dan diet tertentu namun yang lain tidak. Penting untuk berkonsultasi dengan Dokter dan para ahli apalagi jika memiliki kondisi medis tertentu atau adanya kekhawatiran tentang kesehatan. Perlu untuk diketahui aktivitas fisik atau olahraga dan diet apa yang cocok dengan kondisi masing-masing.

Untuk menghilangkan ke-mager-an dan meningkatkan aktivitas fisik, lakukanlah secara bertahap agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan dan konsisten. Mulailah dengan sesuatu yang mudah dan sesuai dengan kondisi, kemudian tingkatkan intensitas dan durasinya seiring waktu. Ingat, fokus utama adalah membuat aktivitas fisik menjadi bagian alami dari gaya hidup untuk mencapai manfaat kesehatan jangka panjang.

 

Penulis : Neina Qonita Istiqomah (Mahasiswa Magister Psikologi Sains Universitas Padjadjaran)

Editor : Hafidz

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top