Ditengah Situasi Kronis, Ada Anggaran 81 Miliar yang Mistis

Foto: Arsip Pribadi

Bagikan:

Rekamjabar.com – Perlu di ketahui bahwasanya kondisi Kabupaten Kuningan saat ini sedang tidak baik-baik saja, dari mulai PJU, gagal bayar, terus juga miskin ekstrim bahkan sampai yang baru-baru ini adalah relokasi pedagang.

Namun di sisi lain ada hal yang menjadi pertanyaan publik, terkhusus Saya sebagai seorang aktivis.

Ketika semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkena rasionalisasi kegiatan dalam APBD 2024 sampai dengan 70 persen, kondisi yang sangat berbeda dirasakan Setda Kuningan. Sebagai penentu kebijakan dan alokasi keuangan, tapi yang di herankan anggaran Setda aman dan tak tersentuh rasionalisasi namun malah ditambah.

Di tengah krisis keuangan daerah yang sedang terjadi, seharusnya tidak ada kebijakan keuangan standar ganda. Apalagi sekarang untuk Setda Kuningan dianggarkan sangat fantastis mencapai Rp81 miliar dalam APBD tahun 2024, yang setelah sebelumnya pada tahun 2023 jumlahnya mencapai Rp70 miliar.

Terlepas dari itu ada kegiatan yang dilakukan pada saat situasi krisis keuangan gagal bayar melanda daerah. Antara lain yang pertama agenda awal tahun yang di lakukan Dharma Wanita Persatuan (DWP) jalan-jalan ke Bali. Terus juga yang selanjutnya ada kegiatan Forum Group Discussion (FGD) di lingkup bagian Setda Kuningan yang dilaksanakan berkali-kali di hotel mewah.

Seharusnya Sekretariat Daerah dapat memberikan contoh bagaimana menggunakan dana APBD yang tepat sasaran bagi kesejahteraan masyarakat, bukan malah membuat kecemburuan dari perangkat daerah yang lain, sehingga timbul anekdot setda mah bebas, apa saja boleh.

Kemudian pada saat proses pemeriksaan RKA-DPA, dilarang adanya pengadaan untuk seragam/kaos/rompi dan lainnya, namun di Setda Kuningan bisa dan boleh. Di Setda Kuningan pengadaan untuk sarana prasarana kerjanya bahkan sangat lengkap sejali.

Meskipun kondisi bangunannya masih bagus, kantor Setda lama yang akan segera ditinggalkan dan pindah ke gedung baru di komplek KIC. terus saja dicat dan direnovasi lagi dan lagi. Ini juga menjadi pertanyaan kita bersama.

Seharusnya Pj Bupati Kuningan harus bisa melakukan langkah-langkah yang bisa menyeimbangkan atau mengurangi pengeluaran daerah dari semua kegiatan dalam APBD di luar melaksanakan belanja wajib. Ini disebabkan sampai saat ini kondisi keuangan daerah sedang sakit parah dan masih mengalami defisit mencapai ratusan miliar rupiah.

Anggaran Setda untuk tahun 2024 pada saat pengesahan APBD Kuningan, nilai awalnya hanya Rp49.669.319.132. Ketika ada proses refocusing nilainya malah melonjak yaitu pada perubahan pertama Rp77.515.095.172. Semakin membengkak lagi jumlahnya di perubahan kedua menjadi Rp81.360.095.172. Kenaikan 60 persen dari pagu anggaran semula atau naik hampir dua kali lipatnya.

Pertanyaan Bersama adalah untuk apa dan darimana anggaran atau sumber dana yang di pake dan di gunakan oleh Setda senilai 81 Miliar itu. Kalau misal anggaran itu dari APBD itu tidak mungkin. Mari kita sama-sama pecahkan teka-teki ini, supaya bisa terjawab dan terkuak dengan jelas.

Di momen politik saat ini kita harus bisa lebih selektif untuk memilih pemimpin Daerah yang sebentar lagi akan di laksanakan. Kita butuh sosok yang benar-benar bersih dan juga berintegritas bahkan mampu menyelesaikan PR yang sekarang sedang terjadi di Kabupaten Kuningan ini.

Jangan sampai di kemudian hari pemimpin yang kita pilih malah menjadi mafia anggaran atau malah menyengsarakan rakyatnya sendiri dan malah memperkaya golongan, keluarga bahkan dirinya sendiri.

Penulis: Eka Kasmarandana (Ketua Umum HMI Cabang Kuningan)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top