Rekamjabar.com (Bandung) – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyoroti rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja lokal di sektor industri. Salah satu penyebab utamanya dinilai karena ketidaksesuaian antara kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan kebutuhan yang ditetapkan oleh dunia usaha.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan bahwa masih banyak kasus di mana warga lokal gagal mendapatkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan sekitar karena tidak memenuhi kualifikasi dasar yang dibutuhkan.
“Orang Karawang, Desa Wadas enggak diterima oleh di perusahaan itu gara-gara matematika dasarnya lemah. Kalau seperti itu nanti untuk para calon tenaga kerja, saya buka bikin kursi yang sederhana-sederhana aja. Misalnya kursus matematika dasar, kali, jumlah, tambah, nah yang gini-gini,” kata Dedi saat ditemui di El Royale Hotel Bandung pada Selasa (5/8/2025).
Menurutnya, hal ini merupakan persoalan serius yang perlu segera ditangani. Dedi menekankan pentingnya membangun hubungan yang selaras antara dunia pendidikan dan pelatihan kerja dengan kebutuhan industri.
“Nah, ini yang harus segera diselesaikan, sehingga pendidikan kita ini pendidikan yang mengarah pada kebutuhan. Jadi, jangan bicara bahwa hari ini lowongan kerja sangat terbatas. Menurut saya, lowongan kerja itu tersedia cuman kualifikasi yang tidak terpenuhi,” ucap dia.
Dedi menambahkan, peningkatan kualitas SDM tidak hanya cukup dilakukan melalui program pelatihan atau pengembangan oleh pemerintah. Namun juga harus disertai dengan edukasi menyeluruh kepada masyarakat mengenai arah kebutuhan industri di masa mendatang.
“Yang berikutnya rencana rekrutmen tenaga kerja harus bisa dilihat. 2026 industri nyiapin berapa, 2027 berapa, 2028 berapa, 2029 berapa, kualifikasinya apa, ini harus diumumin sejak sekarang, sehingga kita segera menyiapkan,” ungkap Dedi.
Ia menegaskan bahwa informasi seperti jumlah tenaga kerja yang akan dibutuhkan dan jenis keterampilan yang diperlukan harus disosialisasikan lebih awal. Tujuannya agar SDM lokal memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri agar sesuai dengan permintaan industri.
“Contoh, Subang tahap sekarang dibutuhkan 6.000 – 8.000. Subangnya baru bisa memenuhi 1.500. Itu 1.500 ngambil Purwakarta, Karawang. Ketika masuk kemudian tenaga kerja lokalnya, daerahnya kurang terekrut, saya minta bupatinya kamu cari 3.000 lagi. Latih sejak sekarang, arahkan, penuhi rekrutmen,” beber dia.
Ia berharap strategi ini dapat mengurangi jumlah tenaga kerja lokal yang tidak terserap oleh perusahaan yang beroperasi di daerah asal mereka.
“Jangan sampai nanti begitu perusahaan berdiri, tenaga kerjanya direkrut, orang sananya tidak kebagian, ramai lagi. Nah, ini perlu kecermatan, kecerdasan pemerintah dalam membaca setiap peluang yang terjadi gitu ya,” tambah dia.