Ekonom dan Politikus Thomas Trikasih Lembong

Thomas Trikasih Lembong. Foto: CNBC Indonesia.

Bagikan:

Rekamjabar.com – Tom Lembong merupakan salah seorang ekonom Indonesia yang memiliki pengalaman cukup mentereng sebagai bankir dan politikus. Tom Lembong pernah menduduki beberapa jabatan penting di lembaga pemerintah Indonesia, ia sempat dipercaya sebagai Menteri Perdagangan dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Ketika dipercaya sebagai menteri pada masa pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla, Tom Lembong memegang jabatan itu kurang dari satu tahun. Ia menduduki jabatan Menteri Perdagangan selama 11 bulan 15 hari dan kemudian dipercaya sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) selama lebih dari 3 tahun.

Saat ini, Tom Lembong dipilih oleh pasangan capres-cawapres Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar sebagai bagian dari tim sukses mereka dalam Pemilihan Umum 2024. Ia diberi posisi sebagai co-captain Timnas AMIN (Anies-Muhaimin).

KEHIDUPAN PRIBADI

Thomas Trikasih Lembong atau lebih dikenal juga sebagai Tom Lembong lahir di Jakarta, pada tanggal 4 Maret 1971. Ia merupakan anak dari pasangan Yohanes Lembong (Ong Joe Gie) asal Manado dan Yetty Lembong asal Tuban.

Pada masa dimana kebanyakan masyarakat Indonesia hanya tamatan Sekolah Dasar (SD), ayah Tom Lembong berhasil lulus dari Universitas Indonesia dan bekerja sebagai dokter ahli jantung dan THT, beberapa media bahkan menyebut jika ayah Tom Lembong bergelar Doktor di bidang Radiologi.

Selain ayahnya, pamannya yakni Eddie Lembong juga merupakan sosok yang penting dalam dunia farmasi, ia adalah seorang lulusan jurusan farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Eddie Lembong merupakan pendiri dari salah satu perusahaan farmasi tertua di Indonesia yakni PT. Pharos Indonesia.

Sedari bangku Sekolah Dasar, Tom Lembong sudah merasakan bangku sekolah di berbagai negara. Dirinya pernah mengenyam bangku Sekolah Dasar (SD) di Jerman sampai ia berusia 10 tahun. Saat kembali ke Indonesia, Tom Lembong melanjutkan SD dan SMP di Sekolah Regina Pacis, Jakarta. Saat SMA, dirinya kembali bersekolah di luar negeri tepatnya di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tom Lembong kemudian melanjutkan pendidikannya di Harvard University dan berhasil lulus pada tahun 1994 di bidang Arsitektur dan Perancangan Kota.

KARIER
Thomas Trikasih Lembong. Foto: Republika Ekonomi.

Setelah lulus dari Harvard University, satu tahun kemudian Tom memulai kariernya pada tahun 1995 dengan bekerja di Divisi Ekuitas Morgan Stanley (Singapura). Disana, ia bekerja selama empat tahun sampai tahun 1999 dan kemudian memilih untuk bekerja sebagai bankir investasi di Deutsche Securities Indonesia sampai tahun 2000.

Karier Tom Lembong di bidang ekonomi dan keuangan semakin menonjol kala dirinya dipercaya sebagai Kepala Divisi dan Wakil Presiden Senior di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada tahun 2000-2002. Saat itu, BPPN berada di  bawah Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia dan diberikan tugas untuk merekapitulasi sekaligus merestrukturisasi sector perbankan di Indonesia setelah sempat mengalami krisis keuangan Asia pada 1998. Setelahnya, Tom kemudian memilih untuk bekerja di Farindo Investments dari 2002-2005.

Kemudian pada tahun 2006, Tom menjadi salah satu pendiri dan direktur utama sebuah perusahaan ekuitas swasta di Singapura bernama Quvat Management. Tidak hanya itu, dirinya juga menjadi presiden komisaris PT Graha Layar  Prima Tbk (BlitzMegaplex) dari tahun 2012 sampai 2014.

Sebelum ditunjuk sebagai Menteri Perdagangan oleh Presiden Joko Widodo, Tom Lembong sempat kembali ke pemerintahan sebagai seorang penasihat ekonomi sekaligus penulis pidato untuk Jokowi saat dirinya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2013. Peran itu bahkan diteruskan sampai Jokowi menduduki jabatan presiden pada periode pertamanya.

Tom adalah orang dibalik layar yang menulis beberapa pidato Presiden Joko Widodo. Dua diantaranya adalah pidato “Game of Thrones” pada pertemuan IMF-Bank Dunia di Bali pada tahun 2018, dan pidato “Thanos” pada Forum Ekonomi Dunia.

Tom kemudian memilih meninggalkan pemerintahan dan mendirikan Consilience Policy Institute, sebuah lembaga yang merupakan wadah bagi para pemikir yang mengadvokasi kebijakan ekonomi internasionalis dan reformis di Indonesia.

Terakhir kali dirinya berada di dunia pemerintahan adalah ketika dirinya ditunjuk oleh Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk menduduki jabatan sebagai Ketua Dewan PT Jaya Ancol yang menjadi satu-satunya Badan Usaha Milik Pemerintah Provinsi di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

 

Sumber: Berbagai Sumber

Penulis: Hafidz

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top