Rekamjabar.com (Bandung) – Misteri hilangnya Alvaro selama delapan bulan berakhir menyedihkan setelah jasadnya ditemukan dalam kondisi tinggal kerangka. Polisi menetapkan ayah tirinya sebagai tersangka, namun belum genap sehari ditahan, pria itu ditemukan tewas di sel, diduga bunuh diri.
Peristiwa ini menuai sorotan luas, termasuk dari akademisi psikologi Billy Martasandy. Ia menilai kasus tersebut mencerminkan pola kekerasan dalam keluarga, terutama keluarga dengan orang tua tiri, yang kerap tidak terdeteksi.
Billy menjelaskan bahwa hubungan emosional yang rapuh antara orang tua tiri dan anak dapat memicu dinamika berbahaya.
“Banyak faktor seperti konflik peran, kecemburuan, tekanan ekonomi, hingga kebutuhan untuk mendominasi bisa melahirkan kekerasan dalam keluarga campuran. Anak sering menjadi sasaran karena dianggap paling lemah,” terangnya.
Menurut Billy, kekerasan pada anak biasanya tidak muncul tiba-tiba, melainkan akumulasi stres dan ketidakmampuan pelaku mengontrol emosi. Risiko agresi meningkat jika pengasuh memiliki kondisi psikologis yang tidak stabil dan sejak awal tidak memiliki ikatan emosional dengan anak.
Terkait dugaan bunuh diri tersangka, Billy melihat adanya tanda krisis mental akut. “Perasaan bersalah, ketakutan terhadap stigma sosial, dan tekanan di tahanan dapat memicu tindakan impulsif. Ini sering menunjukkan disintegrasi mental—kondisi ketika seseorang mengalami keruntuhan fungsi psikologis secara mendadak dan tidak mampu menghadapi kenyataan,” lanjut Billy.
Ia menambahkan, keluarga Alvaro kini menghadapi trauma berlapis: kehilangan yang misterius, dikhianati oleh pengasuh, hingga pelaku meninggal sebelum proses hukum selesai. Situasi tersebut berisiko memicu PTSD jika tidak ditangani serius.
Billy merekomendasikan pendampingan psikologis jangka panjang bagi keluarga, termasuk terapi trauma dan konseling keluarga. Anak-anak lain yang berada di lingkungan rumah juga perlu mendapatkan perhatian emosional.
Selain itu, ia menekankan perlunya evaluasi nasional terkait perlindungan anak.
“Upaya kita tidak hanya soal penegakan hukum. Kita harus membangun keluarga yang sehat secara emosional, melakukan skrining psikologis bagi pengasuh, dan meningkatkan kepekaan masyarakat terhadap tanda kekerasan domestik,” tegasnya.
Billy juga mendorong aparat untuk memperkuat pemantauan kesehatan mental tahanan, terutama dalam kasus kekerasan anak, demi mencegah kejadian serupa.
Ia menutup pernyataan dengan menegaskan bahwa tragedi Alvaro adalah alarm bahwa isu kesehatan mental dalam keluarga membutuhkan perhatian dan kerja sama banyak pihak—dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga aparat penegak hukum.