Bandung, Rekamjabar – Di tengah menjamurnya coffee shop glamor dan elegan yang mendominasi sudut-sudut Kota Bandung, muncul satu entitas yang memilih jalan sunyi namun bermakna. Biji Rakyat Kopi, hadir bukan sekadar sebagai tempat menyesap kafein, tapi menjelma menjadi ruang perlawanan terhadap arus konsumerisme yang sering kali melupakan nilai di balik sebuah produk.
Meramu konsep yang kontras dengan tren pasar saat ini, Biji Rakyat Kopi mengedepankan edukasi, literasi, dan apresiasi terhadap panjangnya rantai produksi dari secangkir kopi, makanan maupun minuman lainnya.
Founder Biji Rakyat Kopi, Rafi Pratista (32), menjelaskan bahwa penamaan kedainya bukan tanpa alasan. Sebagai sosok yang berlatar belakang Konsultan Geologi, ia membawa ketelitian ilmiah ke dalam filosofi bisnisnya.
Rafi ingin setiap pelanggan menyadari bahwa kopi yang mereka minum adalah hasil jerih payah kolektif, mulai dari petani di gunung hingga barista di belakang bar.
“Barang itu sampai melalui tangan banyak sekali orang. Petaninya berapa orang, distribusinya siapa. Kami ingin pelanggan mengapresiasi itu,” tegas Rafi saat diwawancarai, Rabu (31/12/2026).
Pesan tersebut semakin diperkuat dengan atmosfer kedai yang sarat akan nuansa pergerakan. Koleksi buku yang terjajar rapi, majalah isu terkini, hingga poster-poster bernada aktivisme menyambut setiap pengunjung.
Namun, Rafi menolak jika ini disebut sebagai penyebaran ideologi. Bagi lulusan Geologi Unpad ini, ia hanya ingin menyediakan ruang berbagi informasi.

Keunikan lain dari Biji Rakyat adalah keberaniannya mengusung konsep egaliter. Di tengah budaya bisnis yang serba komersil, kedai ini membiarkan fasilitas Wi-Fi terbuka lebar tanpa password.
Tata letak meja pun didesain ideal untuk para pekerja atau mahasiswa yang membutuhkan ruang fokus, lengkap dengan stopkontak di hampir setiap sudut.
“Rakyat sudah cukup sulit, tidak usah dikasih satu tahap tambahan (proses input password),” ujar dia.
Dibalik berdirinya Biji Rakyat Kopi, tentu ada perjalanan panjang yang dilewati. Rafi menceritakan bahwa bisnis ini lahir dari tangan tiga kawan SMA yang menyatukan visi selepas kuliah.
Rafi bahkan rela menyisihkan tabungan hasil proyek lapangannya sebagai konsultan geologi untuk mendirikan kedai ini bersama rekan-rekannya yang memiliki latar belakang finansial dan pengalaman di industri kopi.
Meskipun kini telah berpindah lokasi dari tempat asalnya di Jalan Supratman No. 90, Rafi berupaya keras menjaga vibrasi yang sama: homey dan terasa seperti ruang tamu sendiri.
Bagi warga Bandung yang mendambakan suasana “ngopi yang jujur”, tanpa sekat sosial, dan ingin berhenti sejenak untuk menghargai setiap tetes jerih payah rakyat, Biji Rakyat adalah pelabuhan yang tepat.
(npa)
1 thought on “Biji Rakyat Kopi: Dari Secangkir Kafein hingga Perlawanan terhadap Arus Konsumerisme dengan Narasi Egaliter”
https://shorturl.fm/BEiwl