Bandung, Rekamjabar – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyebut angka anemia pada remaja putri di daerahnya turun menjadi 16,79 persen pada 2025. Penurunan ini terjadi setelah penguatan program konsumsi tablet tambah darah dan edukasi gizi di sekolah.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Jawa Barat, Ema Rahmawati, mengatakan angka tersebut jauh menurun dibandingkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 yang mencapai 41,93 persen.
“Pada 2023 angkanya turun menjadi 36 persen, kemudian pada 2025 menjadi 16,79 persen,” kata Ema di SMPN 43 Bandung, Jumat (2026).
Menurut dia, penurunan itu tidak lepas dari penguatan program tablet tambah darah bagi remaja putri yang dijalankan pemerintah bersama berbagai mitra.
Salah satunya dukungan dari Nutrition International yang membantu penguatan pelaksanaan program di sekolah.
Program tersebut juga mendapat perhatian Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Jess Dutton, yang meninjau langsung pelaksanaannya di SMPN 43 Bandung.
“Hari ini saya mengunjungi sekolah yang luar biasa ini, salah satu proyek yang kami jalankan bersama Nutrition International untuk membantu memastikan remaja mendapatkan suplemen gizi yang mereka butuhkan agar tumbuh sehat,” kata Dutton.
Ia menilai program tersebut penting karena dapat membantu remaja putri mencegah anemia.
“Kanada sangat bangga bisa bermitra dengan Pemerintah Indonesia di Provinsi Jawa Barat serta Nutrition International dalam menjalankan program ini,” ujarnya.
Ema menambahkan, Pemprov Jabar juga memperkuat pencegahan anemia melalui beberapa program, salah satunya Gerakan Generasi Emas Bebas Anemia (Gemas).
Selain itu, pemerintah membentuk kader kesehatan remaja bernama Sobat atau Super Hero Jawa Barat yang bertugas mengedukasi teman sebaya tentang pentingnya konsumsi tablet tambah darah dan pola hidup sehat.
Sementara itu, Country Director Nutrition International di Indonesia, Herrio Hattu, mengatakan pihaknya tidak menyediakan tablet tambah darah secara langsung.
Menurut dia, tablet tersebut disediakan oleh pemerintah. Pihaknya membantu memastikan program berjalan baik, mulai dari penguatan distribusi hingga sistem pencatatan dan pelaporan.
Herrio menambahkan Jawa Barat menjadi wilayah penting dalam program ini karena memiliki jumlah penduduk terbesar di Indonesia, sekitar 20 persen dari total populasi nasional. Jika program berhasil di Jawa Barat, dampaknya juga besar bagi perbaikan kesehatan nasional.