rekamjabar

Perjalanan Endah Parawangsa di Dunia Literasi, dari Kegagalan Hingga jadi Duta Baca

Foto: Istimewa.

Bagikan:

Rekamjabar.com (Bandung) – Menjadi Duta Baca Kabupaten Bandung 2025 merupakan tonggak penting dalam perjalanan hidup Endah Parawangsa. Mahasiswi UPI Cibiru ini telah melalui perjalanan panjang bersama literasi, yang bukan hanya membentuk dirinya, tapi juga menjadi panggilan hidup yang ia yakini bisa membawa dampak luas.

“Perjalanan hidup yang dibersamai dengan literasi itu sudah sangat jauh mengubahku. Dan aku yakin itu bisa mengubah banyak orang,” ucap Endah saat ditanya mengapa memilih dunia literasi.

Endah pernah gagal dalam seleksi Duta Baca tahun sebelumnya. Ia hanya bertahan hingga 40 besar dan tidak lolos ke tahap selanjutnya. Namun, kegagalan itu menjadi titik balik yang membuatnya melakukan refleksi mendalam terhadap niat dan tujuan awalnya.

“Aku tanya ke diri sendiri, ini niatnya memang karena cinta literasi atau cuma ingin gelar Duta?” katanya.

Di tahun berikutnya, Endah kembali mencoba. Ia mengikuti seluruh proses seleksi dari awal hingga akhir termasuk pendaftaran, tes tulis, wawancara, pembekalan, hingga grand final. Kali ini, ia menjalaninya dengan kedewasaan dan kesadaran baru. Bukan hanya hasil akhir yang membekas dalam ingatannya, tapi juga nuansa kebersamaan yang ia rasakan selama proses berlangsung.

“Aku tidak pernah merasakan proses kompetisi yang se-supportif ini. Di belakang panggung, yang dibicarakan itu bukan ‘aku’, tapi ‘kita’. Tentang kolaborasi, bukan sekadar juara,” ungkapnya.

Setelah terpilih sebagai Duta Baca, Endah menyadari bahwa gelar tersebut membawa tanggung jawab besar. Ia ingin menjangkau lebih banyak orang dan mengembangkan gerakan literasi secara lebih luas.

“Sayap kita menjadi lebih besar, kita punya akses kepada lebih banyak orang, dan tentunya amanah ini bukanlah amanah yang bisa aku abaikan,” ujarnya.

Beberapa program yang ia inisiasi antara lain Safari Literasi, yaitu kegiatan mengunjungi tokoh-tokoh literasi di berbagai daerah dan mengangkat kisah mereka ke ruang digital. Selain itu, ada pula Sekolah Arunika, sebuah gerakan relawan yang mendampingi anak-anak diaspora Indonesia di Penang, Malaysia, serta anak-anak kurang mampu di lingkungan lokal.

“Aku yakin sebenarnya banyak opsi untuk menyambung pendidikan tinggi itu. Tapi dulu aku nggak tahu harus tanya ke siapa. Jadi, lewat program mentoring, aku pengin bantu adik-adik SMA menemukan arah,” jelas Endah.

Ia juga mendorong generasi muda untuk memanfaatkan media sosial sebagai alat penggerak literasi. Endah percaya bahwa teknologi digital bukanlah hambatan, melainkan peluang besar untuk menciptakan perubahan.

“Anak-anak sekarang dekat sekali dengan gawai. Tapi jangan lihat itu sebagai ancaman. Kita bisa ubah jadi potensi. Yuk, jadi kreator, bukan cuma konsumen.” tutupnya.

Dengan peran barunya, Endah memilih untuk melangkah lebih jauh. Ia ingin membawa semangat literasi ke tempat-tempat yang sebelumnya sepi dari perhatian, dan itu semua lahir dari keberaniannya untuk mencoba kembali setelah pernah gagal.

0 thoughts on “Perjalanan Endah Parawangsa di Dunia Literasi, dari Kegagalan Hingga jadi Duta Baca”

  1. Pingback: Dinkes Ungkap DBD di Jabar Capai 22.306 Kasus dengan 85 Kematian Pada Periode Semester Awal 2025, Angka Kematian Tertinggi Ada di Kota Bandung

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top