Kenangan Terakhir Dedi Mulyadi untuk Kanaya: Tabungan Honor Rp 400 Juta Disimpan Bertahun-tahun

Rekamjabar.com (Bandung) – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyerahkan tabungan honor sebesar Rp 400 juta kepada keluarga Kanaya Whulan, mantan vokalis Emka 9 yang selama bertahun-tahun mendampinginya dalam berbagai kegiatan seni dan budaya.

Uang tersebut merupakan honor yang diterima Kanaya saat mengikuti berbagai kegiatan bersama Dedi. Honor itu disisihkan dan ditabung selama bertahun-tahun hingga terkumpul Rp 400 juta.

Dedi menyerahkan tabungan tersebut saat menyampaikan penghormatan terakhir kepada Kanaya sebelum pemakaman.

Kanaya merupakan perempuan asal Tasikmalaya yang dikenal sebagai salah satu vokalis Emka 9. Bersama kelompok tersebut, dia kerap mendampingi berbagai agenda Dedi, mulai dari kegiatan resmi hingga safari budaya ke sejumlah daerah.

Dalam pidatonya, Dedi mengenang Kanaya sebagai rekan seperjalanan yang tidak hanya memiliki kemampuan bernyanyi, tetapi juga mampu menggugah banyak orang melalui karya dan sikapnya.

Dedi mengatakan, kehidupan Kanaya telah sampai pada waktunya untuk kembali kepada Sang Pencipta.

“Sudah tiba waktunya Kanaya kembali ke alam tempat kita semua akan kembali. Semoga dia ditempatkan di alam kuburnya dengan penuh cahaya dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah,” ujar Dedi.

Menurut Dedi, Kanaya merupakan sosok yang memiliki hati bersih dan mampu membangkitkan kesadaran banyak orang melalui kehadirannya.

“Saya yakin Kanaya adalah orang yang memiliki hati yang bersih, ahli dalam kebaikan dan kemuliaan,” katanya.

Dedi pun mendoakan agar seluruh amal Kanaya diterima Allah SWT dan dosa-dosanya diampuni.

“Semoga iman dan Islamnya diterima, dosa-dosanya diampuni, alam kuburnya diterangi, dan dia dibahagiakan ketika menyambut alam akhirat,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dedi mengungkapkan bahwa dirinya telah menyimpan honor Kanaya selama bertahun-tahun. Uang itu disisihkan karena dia ingin memastikan Kanaya memiliki tabungan yang bisa digunakan saat dibutuhkan.

“Setiap honor yang diberikan kepada Kanaya selalu saya simpan, karena saya tahu siapa tahu suatu saat uang itu dibutuhkan,” katanya.

Dari tabungan tersebut, Dedi kemudian menyerahkan uang sebesar Rp 400 juta kepada keluarga Kanaya.

“Karena itu, saya menyerahkan rezeki yang selama ini saya simpan, jumlahnya Rp400 juta. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk ibu dan keluarganya,” ujar Dedi.

Dedi mengatakan, pemberian tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus upaya untuk meneruskan semangat Kanaya dalam membantu sesama.

Dia mengenang Kanaya sebagai bagian dari perjalanan panjangnya di dunia seni. Bersama Emka 9, Kanaya telah mendampinginya dalam berbagai kegiatan selama bertahun-tahun, mulai dari Jawa Barat hingga Papua.

Selain menyerahkan tabungan, Dedi juga menyampaikan rencana membangun sebuah tajug atau tempat ibadah untuk mengenang Kanaya.

Rencana tersebut akan terlebih dahulu dikoordinasikan dengan tokoh masyarakat dan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) setempat.

“Kalau diizinkan oleh seluruh tokoh masyarakat dan Ketua DKM, saya akan membangun sebuah tajug atau masjid,” katanya.

Dedi berharap, pembangunan tempat ibadah tersebut bisa menjadi amal yang terus memberikan manfaat meski Kanaya telah meninggal dunia.

Dia menegaskan, kepergian Kanaya bukan berarti seluruh kebaikan dan karya yang ditinggalkannya ikut berakhir.

“Jasad Teh Kanaya memang dikuburkan, tetapi amal kebaikannya tidak akan pernah bisa dikuburkan,” kata Dedi.

Menurut Dedi, salah satu warisan Kanaya adalah suara yang telah direkam dalam berbagai lagu dan karya. Lagu-lagu tersebut akan tetap hidup dan didengar meski Kanaya telah tiada.

Kanaya bergabung dengan Emka 9 sejak 2019 dan kerap hadir dalam berbagai agenda Dedi.

Sejumlah lagu ciptaan Dedi yang kerap dinyanyikan Kanaya antara lain Rindu Purnama, Karembong Koneng, Prabu Siliwangi, Dangiang Galuh Pakuan, Indung, dan Memanen Cinta.

Dalam momen penghormatan terakhir tersebut, lagu Rindu Purnama kembali dinyanyikan. Lagu itu menjadi salah satu karya yang lekat dengan perjalanan Kanaya bersama Dedi dan Emka 9.

Dedi pun menyampaikan terima kasih kepada keluarga serta seluruh pihak yang telah mengiringi Kanaya hingga prosesi pemakaman.

“Terima kasih kepada semuanya yang telah mengiringi, mendoakan, menyalatkan, hingga mengantarkan Kanaya ke tempat peristirahatan terakhir,” katanya.

Kanaya meninggal dunia dalam usia 35 tahun. Sebelum meninggal, dia terakhir kali membawakan lagu Melati di Tapal Batas karya Ismail Marzuki saat iring-iringan kereta kencana yang membawa Bendera Merah Putih dari Gedung Pakuan menuju Gedung Sate pada 17 Agustus 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *