Rekamjabar.com (Bandung) – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menerima kunjungan pihak Sumitomo Corporation, investor asal Jepang yang terlibat dalam pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka.
KDM mengatakan pertemuan dengan pihak Jepang tersebut, untuk membahas kelanjutan proyek strategis tersebut pascapeletakan batu pertama (groundbreaking) pada 29 Juli 2026.
“Betul, kita rapat membahas persiapan lanjutan pembangunan Legok Nangka,” katanya saat dikonfirmasi, Jumat (9/10/2026).
Pertemuan ini menegaskan komitmen Pemda Provinsi Jawa Barat bersama investor untuk melanjutkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik yang berlokasi di Kabupaten Bandung tersebut.
KDM menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah bertemu dengan pihak investor dan berkomitmen merealisasikan pembangunan PSEL Legok Nangka.
“Ini kita sudah bertemu dengan salah satu investor yang membangun pembangkit listrik tenaga sampah di Legok Nangka. Kita sudah berkomitmen untuk melaksanakan pembangunan,” lanjutnya.
KDM juga menegaskan bahwa sampah dari enam kabupaten/kota di Jawa Barat nantinya akan diolah menjadi energi listrik di fasilitas tersebut.
“Nanti masyarakat Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Garut, Sumedang, sampahnya diproduksi menjadi listrik di Legok Nangka dan ini yang punya modalnya,” ujar KDM.
Pertemuan dengan Sumitomo Corporation ini berlangsung setelah dimulainya pembangunan PSEL Legok Nangka melalui groundbreaking yang dilakukan KDM bersama Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung pada 29 Juli 2026.
Setelah seremoni tersebut, keberlanjutan pelaksanaan proyek menjadi bagian penting dalam mewujudkan fasilitas pengolahan sampah regional yang ditargetkan beroperasi pada 2029–2030.
Sumitomo Corporation merupakan bagian dari konsorsium PT Jabar Environmental Solutions (JES), badan usaha pelaksana proyek yang juga melibatkan EPN, Kanadevia, dan Kyuden.
Proyek ini menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan Pemprov Jawa Barat bertindak sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK).
Investasi Rp7,4 Triliun, Olah Sampah Enam Daerah
PSEL Legok Nangka memiliki nilai investasi sekitar Rp7,4 triliun, dengan skema pendanaan yang mencakup sekitar Rp5 triliun dari investor, Rp2 triliun hibah Pemerintah Pusat, dan Rp350 miliar hibah Pemerintah Belanda.
Fasilitas ini dirancang mengolah hingga 2.131 ton sampah per hari dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang.
Sampah dari enam daerah tersebut akan diproses menggunakan teknologi waste-to-energy untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas yang ditargetkan mencapai 40,79 megawatt (MW).
Pembangunan PSEL Legok Nangka diharapkan menjadi solusi bagi persoalan sampah di kawasan Bandung Raya dan sekitarnya, yang selama ini masih bergantung pada tempat pemrosesan akhir, termasuk TPA Sarimukti.
Melalui proyek ini, sampah tidak hanya dipandang sebagai limbah yang harus ditangani, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat menghasilkan energi dan memberikan manfaat ekonomi.
Target Operasi 2029–2030
Pembangunan PSEL Legok Nangka diperkirakan membutuhkan waktu konstruksi sekitar 41 bulan. Fasilitas ini ditargetkan mencapai commercial operation date (COD) pada kuartal IV 2029 atau kuartal I 2030.
Pemprov Jawa Barat berharap proyek tersebut dapat berjalan sesuai rencana sehingga pengolahan sampah regional dan produksi listrik dapat segera direalisasikan.

