Rekamjabar.com – Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 sebentar lagi tinggal hitungan bulan. Pemilu sebagai pesta demokrasi merupakan ajang penentuan pembangunan Indonesia lima tahun ke depan, untuk menjadi negara maju.
Disini peran aktif generasi muda sangat dibutuhkan untuk menjadi “agent of change” atau agen perubahan dalam pembangunan. Dimana generasi muda 10 sampai 20 tahun mendatang akan menjadi pemimpin mengganti para pemimpin sekarang ini.
Karakteristik Generasi Milenial Dan Generasi Z
Generasi muda yang sekarang istilahnya adalah generasi milenial dan generasi Z. Menurut data yaitu Generasi Milenial yang lahir tahun 1980-1994 dan Generasi Z lahir tahun 1995-2000 an.
Adapun jumlah 2 generasi tersebut yaitu generasi milenial sebanyak 66.822.389 atau 33,60% dan generasi Z sebanyak 46.800.161 pemilih atau sebanyak 22,85% dari total Daftar Pemilih Tetap.
Jika di total sebanyak 113 juta orang, artinya ini lebih banyak dibanding pemilih generasi pre-boomer (lahir sblm 1944) dan generasi X (lahir 1965-1979) (Republika, 2024).
Karakteristik generasi milenial dan Z era 4.0, pertama, lebih kepada penggunaan teknologi dan digital (gadget atau android), dan pemanfaatan penggunaan media dalam berbagai konteks dan pekerjaan (Komariah & Kartini, 2019).
Kedua, mempunyai perilaku politik aktif dalam memperhatikan dan merespon terhadap isu-isu politik dan melakukan kegiatan politik, dan tidak terlepas dari penggunaan media online dan digital.
Hal ini didukung dari penelitian, bahwa 80,5% penggunaan media online/internet dan berkembang menjadi pola dan rutinitas. (Juditha dan Darmawan, 2018)
Ketiga, tanggapan generasi milenial dan Z terhadap isu politik adalah isu yang biasa saja, namun mereka tetap mengikuti berita politik yang diakses dari media online dan televisi. Akan tetapi partisipasi politiknya masih cenderung rendah (Juditha & Darmawan, 2018).
Tantangan Generasi Muda Dalam Politik
Terdapat tantangan bagi generasi muda dalam kegiatan politik, diantaranya :
Pertama, pemilih generasi muda masih sangat rawan untuk dipolitisasi dan komoditas politik dalam mendongkrak popularitas dan elektabilitas kontestan Pemilu.
Kedua, generasi muda masih rawan untuk dibujuk/didekati, dipersuasi, dipengaruhi, dimobilisasi, dan sebagainya untuk bersedia mengikuti kampanye, dimana kontestan Pemilu belum jelas kepeduliannya terhadap pemilih muda.
Ketiga, masih banyak bersikap labil dan emosional, dimana antusiasme politik dengan apatisme politik mereka masih bingung dalam hal menentukan keputusannya. Jelasnya, di satu sisi, generasi muda sangat bersemangat dan ingin mengetahui kegiatan Pemilu melalui media sosial, tetapi di sisi lain antusiasisme generasi muda simetris dengan realitas perilaku politiknya dalam hal pemilu, sampai-sampai mereka saking bingungnya memilih akhirnya memilih untuk golput.
Baca Juga : https://rekamjabar.com/pemilih-suku-sunda-seperti-apa/
Manfaat Aktif Dalam Politik
Tidak selamanya, slogan “politik itu kejam”. Buktinya, pada Pemilu 2019 kemarin, calon legislatif generasi milenial yang menjadi anggota DPR-RI sebanyak 52 caleg (Sjoraida, dkk., 2023). Belum lagi di pemilihan caleg provinsi dan kabupaten.
Disinilah manfaatnya, bahwa dengan menjadi anggota DPR atau menduduki kedudukan politk, generasi muda menjadi pemegang kendali dunia politik untuk mendorong perwujudan demokrasi dan pembangunan Indonesia. Tidak hanya itu, generasi muda dapat aktif dalam menjadi penyelenggara pemilu dan/atau bergabung dengan tim sukses pemilihan.
Keaktifan itu, bermanfaat untuk membantu pemerintah dalam memberikan masukan dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan tujuan negara. Oleh karena itu, generasi muda akan memiliki kesempatan untuk mempengaruhi politik dan memajukan tujuan-tujuan penting.
Generasi muda akan mendapat pelajaran dan pengalaman mengenai dinamika politik dan kepemiluan, yang nantinya akan berguna bagi proses pembangunan demokrasi.
Akhirnya, masyarakat berharap kepada generasi milenial dan Z untuk menerapkan nilai-nilai etika dengan ikut berperan aktif, tidak golput, berpolitik yang baik dan sehat dalam kegiatan politik. Mereka jadi segmen yang sangat strategis untuk dilibatkan partisipasinya dalam memberikan kontribusi bagi Indonesia.
Jangan sampai generasi milenial dan Z memilih posisi di luar kekuasaan, karena generasi itu, yang berperan sebagai penjaga moralitas politik publik dan sebagai alat kontrol kekuasaan untuk di setiap zaman.
Penulis : Cecep Nana Nasuha (Sekretaris LPPM – UNISA Kuningan)
(Mr)
23 thoughts on “Jelang Pemilu 2024, Generasi Milenial dan Gen Z Harus Aktif Dalam Politik”
Pingback: baclofen su uso
Pingback: buy maxalt rizatriptan
Pingback: lioresal intrathekal dosierung
Pingback: maxalt disintegrating
Pingback: mekanisme kerja azathioprine
Pingback: benefits of imuran
Pingback: imdur side effects mayo clinic
Pingback: uso del piroxicam en el embarazo
Pingback: kosten sumatriptan injectie
Pingback: para sirve medicamento meloxicam
Pingback: mobic for scoliosis pain
Pingback: tizanidine side effects mayo
Pingback: zanaflex generic name
Pingback: periactin para el apetito
Pingback: ketorolac without dr prescription
Pingback: cyproheptadine surdosage
Pingback: order cheap toradol prices
Pingback: star stationery artane
каталог krab2.at
Перейти на сайт krab2at
перейдите на этот сайт https://krab2.at
дайсон пылесос беспроводной купить спб дайсон пылесос беспроводной купить спб .
фен выпрямитель для волос дайсон купить фен выпрямитель для волос дайсон купить .