Rekamjabar.com (Bandung) – Provinsi Jawa Barat ditetapkan sebagai daerah percontohan nasional dalam penerapan ekonomi sirkular.
Bersama Kementerian PPN/Bappenas dan Global Green Growth Institute (GGGI), Pemerintah Provinsi Jawa Barat meluncurkan Rencana Aksi Daerah (RAD) Ekonomi Sirkular dan Program Food Loss and Waste Reduction (FLOWER) di Kantor Bappeda Jabar, Bandung, Selasa (29/9/2026).
Peluncuran dua program tersebut menjadi langkah untuk mengurangi timbulan sampah, menekan kehilangan dan pemborosan pangan (food loss and waste), sekaligus membuka peluang lapangan kerja hijau dan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Teguh Sambodo mengatakan, Jawa Barat dipilih karena memiliki tantangan sekaligus potensi besar dalam pengembangan ekonomi sirkular. Jawa Barat juga merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia.
Menurut Teguh, ekonomi sirkular menjadi salah satu prioritas nasional dalam pengembangan ekonomi hijau. Konsep tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, energi, dan sumber daya melalui pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab.
“Ekonomi sirkular ini menjadi salah satu prioritas di bawah ekonomi hijau, bagaimana kemudian kita juga mendorong adanya kesadaran, tanggung jawab, dan juga inovasi yang memungkinkan kita mengelola limbah yang dihasilkan dari pola konsumsi kita, pola produksi dan konsumsi kita secara bertanggung jawab,” kata Teguh.
Pemerintah pusat telah menetapkan lima sektor prioritas ekonomi sirkular, yakni pangan, tekstil, kemasan plastik, konstruksi, dan elektronik. Jawa Barat kemudian menambahkan dua sektor unggulan, yaitu kertas dan otomotif, yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah.
Teguh mengapresiasi komitmen Jawa Barat yang bersedia menjadi pelopor penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.
“Kami mengapresiasi dari Provinsi Jawa Barat yang sudah menjadi, bersedia menjadi pilot, menjadi lighthouse untuk provinsi yang lain dalam mengembangkan, menerapkan ekonomi sirkular,” ujarnya.
Selain RAD Ekonomi Sirkular, Bappenas juga memperkenalkan Program FLOWER yang didukung GGGI untuk mempercepat penanganan kehilangan dan pemborosan pangan di Indonesia.
Program tersebut diharapkan dapat menerjemahkan visi nasional ke dalam proyek-proyek konkret di daerah, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan pengelolaan sampah.
“Kami harapkan peluncuran dua dokumen Rencana Aksi Daerah Ekonomi Sirkular yang dilengkapi dengan peluncuran program FLOWER, harapannya bisa menerjemahkan apa yang menjadi visi nasional ini diselaraskan juga dengan visi daerah,” tutur Teguh.
Sementara itu, Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Jawa Barat Sumasna mengatakan, sampah makanan menjadi salah satu persoalan serius yang dihadapi daerah. Berdasarkan data lapangan, hampir separuh sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) merupakan sisa makanan.
“Di urusan hilir, sampah yang masuk ke TPA itu ternyata 45 sampai 50 persen itu merupakan sampah dari makanan, sisa makanan,” kata Sumasna.
Ia menjelaskan, kehilangan pangan terjadi di berbagai tahapan, mulai dari panen, penggilingan, distribusi, hingga konsumsi. Kondisi tersebut membuat banyak potensi pangan tidak termanfaatkan secara optimal dan akhirnya menjadi sampah.
Menurut Sumasna, ekonomi sirkular tidak hanya berperan dalam mengurangi limbah, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat yang selama ini banyak ditopang sektor manufaktur.
“Nah dengan penelaahan, pencermatan di ekonomi sirkular, mudah-mudahan hal seperti ini kita bisa tekan supaya reduksi yang betul-betul residunya ujungnya ke sampah itu semakin kecil,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil kajian Bappenas menunjukkan ekonomi sirkular berpotensi menciptakan lapangan kerja baru yang dapat membantu menekan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Barat.
Di sisi lain, GGGI memastikan dukungannya melalui Program FLOWER. Indonesia Country Representative GGGI Rowan Fraser mengatakan, program tersebut akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur dan penerapan solusi untuk mengatasi kehilangan serta pemborosan pangan.
“Melalui Program FLOWER, kami akan mendukung para mitra dalam membangun infrastruktur untuk mengatasi kehilangan dan pemborosan pangan (food loss and waste), serta menciptakan berbagai peluang di tingkat lapangan bagi pelaku usaha di Bandung dan di seluruh Provinsi Jawa Barat,” kata Rowan.
GGGI juga menargetkan mobilisasi investasi tambahan sebesar 25 juta dolar Amerika Serikat untuk mendukung pengembangan ekonomi sirkular di Jawa Barat.
“Investasi tersebut akan mengalir secara langsung ke Bandung dan Provinsi Jawa Barat, serta turut mendukung penciptaan lapangan kerja hijau di sektor ekonomi sirkular dan sektor penanganan kehilangan serta pemborosan pangan,” ucapnya.
Melalui kolaborasi pemerintah pusat, Pemprov Jawa Barat, GGGI, pemerintah kabupaten/kota, dan dunia usaha, penerapan ekonomi sirkular dan Program FLOWER diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya, memperkuat ketahanan pangan, serta membuka peluang ekonomi hijau bagi masyarakat Jawa Barat.

